Sunday, August 19, 2007
Apakah aku harus marah,
Untuk ungkapkan semua serampah?
Saat semua tak mampu melihatku,
Yang terkurung jasad.
Hanya jasad mampu dilihat,
Bukan hakikat.
Haruskah aku bersedih,
Jika kembali tenggelam,
Dalam jasad?
Terjebak tak berdaya, diperdaya nafsu
Jasad yang merusak jiwa
Terkubur di dalamnya.
19 agustus 2007
Saat aku harus kalahkan amarah
Saat aku harus batasi kesenangan
Saat aku melebur dalam keduanya.
Aku tiupkan hakikat
Dalam keseimbanganku
Dalam harmoni
Sendiri di atas gelap dan terang
Kendalikan keduanya
Dalam keseimbangan
Kuasai, bukan dikuasai
Renangi, bukan tenggelam
Melayang, bukan terhempas
Aku adalah harmoni
16 agustus 2007
Wednesday, August 8, 2007
TeaterRekonstruksi (Tragedi Batavia 1628-1629)
![]()
Ini adalah salah satu kisah dari Kerajaan Mataram. Saat hampir semua wilayah di Jawa berada dalam kekuasaan Mataram dengan Sultan Agung sebagai rajanya, bagaikan duri dalam daging, Batavia menjadi ganjalan Mataram untuk menaklukkan Banten, karena Batavia tidak bersedia berkoalisi dengan Mataram untuk menaklukkan Banten.
Saat Sultan Agung disibukkan dengan urusan
Di Batavia pun Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen dihadapkan dengan masalah yang menyangkut harga dirinya. Sara (Saartje) Specx yang dititipkan kepada Coen oleh Ayahnya, Jacques Specx yang sedang melakukan perjalan ke Patria, melakukan tindakan yang melanggar peraturan moral yang baru saja diterapkan di Batavia. Saartje Specx tertangkap basah sedang berduaan dengan Pieter Van Koertenhoef, seorang Perwira Muda VOC. Saartje dan Pieter kemudian di sidang di hadapan Dewan Hakim dan Dewan Gereja. Di persidangan, Pieter dijatuhi hukuman penggal, dan Saartje dijatuhi hukuman cambuk seratus kali, yang eksekusinya berlangsung satu tahun kemudian.
Setelah kegagalan pada serangan pertama di tahun 1628, Mataram berusaha melakukan serangan kedua pada tahun berikutnya, 1629. Penyerangan kali ini dipersiapkan lebih matang. Dikirimlah Tumenggung Singaranu, Pangeran Purbaya, Adipati Puger, Adipati Jumenah dan Tumenggung Madiun, Walau dipersiapkan lebih matang, serangan kali ini juga gagal, padahal Batavia saat itu sedang terkena Wabah disentri yang pada tanggal 21 September 1629 merenggut nyawa Sang Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen. Saat pasukan Mataram pimpinan Tumenggung Singaranu kalah dan terpukul mundur, rupanya Adipati Ukur memanfaatkannya untuk kabur dan meninggalkan medan perang bersama anak buahnya menuju Banten, walau akhirnya tertangkap dan di eksekusi oleh Sultan Agung.
![]()
Tiga hari sebelum meninggal dunia, Jan Pieterzoon Coen sempat menyaksikan eksekusi pemenggalan Pieter Van Koertenhoef dan Saartje Specx. Beberapa hari setelah meninggalnya Jan Pieterzoon Coen, ayah Saartje Specx, Jacques Specx, pulang dan menggantikan posisi Jan Pieterzoon Coen dengan lebih disiplin. Hingga dapat memukul mundur pasukan Mataram pimpinan Tumenggung Singaranu yang sudah terpecah belah.
Rizki Pradana
25 Juli 2007
00.36
Pilkada Bentar Lagi Nih...!
Bang Adang Darajatun ama Bang Dani Anwar, calon gubernur kita nomor Satu, calon yang di ajuin ama Partai Keadilan Sejahtera, partai yang pemilu legislative kemaren menang di Ibukota ini. Partai Islam yang pendukungnya kebanyakan kaum kuliahan alias mahasiswa atau bekas mahasiswa ini emang cukup punya taji di
Udah tuh ya. Tadi dah ngebahas Bang Adang ama Partainya, PKS, sekarang saya mo ngebahas calon nomor dua kita, Bang Foke ama partainya yang bejibun tuh. Dari yang banyak itu malahan beberapa ada partai gede, ada Partai Golkar, ada Partai Demokrat, ada PAN, ada PDIP ada PPP dan masih banyak lagi partai kecil, oh iya ada Partai Damai Sejahtera pimpinan Pdt. Ruyandi Hutasoit tuh. Bang Fauzi atau Bang Foke, dari awal masa jabatan Bang Yos, ampe sekarang masih ngejabat jadi Wakil Gubernur, jadi banyak orang nganggep dia punya pengalaman dan pantes buat nerusin amanatnya Bang Yos, tapi apa bener begitu, cuman hati kita yang bisa jawab. Trus kita musti pikirin juga kenapa Bang Fauzi yang katanya dah pengalaman itu musti didukung ame segitu banyak partai, lah tumben pada akur tuh partai? Kita pikirin deh, nih misalnya Bang Fauzi menang, trus jadi gubernur, berape banyak kepentingan yang ada. Partainya aja banyak, pasti pada bawa kepentingan masing-masing, ada yang pengen selamet, ada yang pengen usahanya lancer, ada yang pengen jabatannya lanjut wah hitung aja sendiri deh ada brapa banyak kepentingan yang bakalan di tagih kalo bang Fauzi menang, politik kan katanya cuman masalah kepentingan sejati, kagak ade temen sejati atau musuh sejati, yang ada Cuma kepentingan sejati. Nah masalahnya kepentingan siapa? Kalo kepentingan rakyat sih kagak apa-apa deh, nah kalo cuman kepentingan pejabat ama pengusaha, bisa runyam deh ni
Ya sedikit banget yak? Emang yang saya tahu cuman segitu, ditambah lagi
8 Juni 2007 - 02.53 WIB
My Lovely Disordered Room
Rizki Pradana
Mahasiswa Seni Tari Universitas Negeri
Sekretaris AMPG Kecamatan Makasar,

